Amerika Sedot Tinja Orang Indonesia, Contohnya di Makassar

Amerika Sedot Tinja Orang Indonesia, Contohnya di Makassar


Amerika Sedot Tinja Orang Indonesia, Contohnya di Makassar 



Sedotwcpanggil.com - Masih tetap kenakan batik, tiada masker penutup hidung, serta cuma kenakan sarung tangan plastik, Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal MI (42), membungkuk serta masukkan selang hidrolik 3/4 ke bak tinja rumah masyarakat komplek perumahan urban di BTP Blok A, Tamalanrea, Makassar, Sabtu (8/8/2015).

Deng Ical, sapaan wakil wali kota, tersenyum lebar walau beberawa wartawan serta panitia acara itu mengkritik mengenai aroma tinja.

Bahkan juga dua ekspatriat Heather D'Agnes (Deputy Directur of Environment Office of USAID) serta Foort Bustraan (Chief of Party IUWASH), ketawa terlepas melihat kelakar orang nomer dua di kota berpenduduk 1,7 juta ini.

Dalam situasi informal, Deng Ical tengah menandai project sanitasi lingkungan yang digagas instansi domor Amerika Serikat, USAID, lewat program Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene (IUWASH) di timur Indonesia.

Baca juga:




Kota Makassar jadi kota pertama di Indonesia yang memiliki Skema Service Lumpur Tinja Terjadwal (SLTT), yang diurus oleh Unit Pelaksana Tehnis Daerah (UPTD) Pengendalian Air Sampah (PAL).

"Ini ialah langkah kecil, remeh tetapi untuk jadikan Makassar kota nyaman dalam dunia," kata Dg Ical memberikan sambutan.

Dengan project ini, cost penyedotan tinja yang umumnya diurus pihak swasta dengan cost Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu, sekarang biayanya dapat dipangkas sampai Rp 12 ribu sampai Rp 15 ribu.

Pujianto, masyarakat Kompleks BTP menyampaikan terasa mujur lokasi tempat tinggalnya jadikan pilot project SLTT ini.

Urban asal Jawa ini menuturkan semenjak ada sosialisasi dari Team UPTD PAL ke wilayahnya mengenai pentingnya septik tank berstandar SNI, hingga tidak mencemari lingkungan, dia langsung ganti septik tanknya dengan standard yang baik berdasar pada SNI.



Dia juga terasa tak perlu mengingat kembali waktu untuk mengisap septik tanknya sebab petugas UPTD PAL telah memiliki catatan yang baik hingga dia dapat mematikan septik tanknya tersedot sesuai dengan jadwal.

Lebih dari itu dia terasa nyaman, sebab tidak hanya murah biayanya, lumpur tinja keluarganya tidak dibuang ke asal-asalan tempat.

"Dahulu setiap mengisap lumpur tinja menggunak layanan sedot tinja swasta. Sekali sedot saya mesti keluarkan uang Rp 300.000, serta saya tidak paham itu dibuang kemana. Bahkan juga dahulu saya tidak perduli. Semenjak sosialiasasi saya menjadi perduli, serta dengan UPTD PAL saya cuma keluarkan cost Rp 12,500/bulan.

Tidak hanya Heather D'Agnes serta Foort Bustraan, ada juga PLP Kementerian PUPera Meinar Manurung , serta petinggi dari UPTD PAL Makassar Muhammad Ansar serta Zuhaelsi Zubir (Kepala UPTD PAL, Makassar).

"Buat apakah kita miliki uang, rumah bagus, tetapi sekitar lingkungan kita berbau, anak sakit-sakitan sebab lingkungan kotor. Makassar mesti jadi yang paling depan dalam sanitasi yang baik, sampah diurus dengan baik serta masyarakatnya memperoleh kualitas hidup yang baik. Kita ingin buat jadi kota Makassar jadi kota yang nyaman dalam dunia," tuturnya.

Dalam sambutannya, Meinar Manurung dari kantor Kementerian Pekerjaan Umum serta Perumahan Rakyat (PUPeRa) menyampaikan, pemerintah pusat mengambil keputusan tujuh kota pilot proyek mengaplikasikan SLLTT ini.

Tidak hanya Makassar, ada Solo (Jawa Tengah), Bogor serta Depok (Jawa Barat), Balikpapan (Kalimantan Timur), Tabanan (Bali), serta Jakarta.

Akan tetapi dari ketujuhnya, Makassar jadi yang pertama terlebih dulu lakukan eksperimen SLTT ini dengan baik.

Chief of Party IUWASH, Foort Bustraan, menyampaikan, project ini jadi catatan terpenting yang bagus buat Makassar.
Sebab umumnya, masalah sampah domistik jarang jadi perhatian utama serta prioritas dari Pemda. Bila juga harus menjadi prioritas umumnya muncul terakhir sebab terjadi karena.

"Tetapi bekerja dengan Pemerintah Kota Makassar mengagumkan. Dari Walikota, Wakil Walikota, SKPD, bahkan juga masyarakatnya ingin berkoloborasi untuk pastikan akses mereka memperoleh kualitas hidup yang baik dengan diantaranya SLLTT ini diaplikasikan dengan benar-benar. Walau kita ketahui ini banyak rintangan serta terbatasnya," tuturnya.

Kepala Dinas PU, Ansar, menuturkan Kota Makassar cuma mempunyai satu unit IPLT (Instalasi Pembuangan Sampah Terjadwal (IPLT) do Nipanipa yang cuma dapat menyimpan 100 m3/hari.

Keadaan ini begitu tidak hanya terbatas mengingat lumpur tinja masyarakat kota Makassar bertambah tiap-tiap tahunnya.

Walau sebenarnya yang dbutuhkan ialah empat IPLT yang sekarang jumlahnya penduduknya seputar 1,7 juta jiwa.(*)




EmoticonEmoticon